Selasa, 10 Desember 2013

ST-INTEN


                ST-INTEN BANDUNG

Sejarah ST-INTEN

Sekolah Tinggi Sains dan Teknologi Indonesia (ST-INTEN) Bandung didirikan sejak 1984,  dengan ijin penyelenggaraan pada jurusan-jurusan yang ada di ST-INTEN Bandung dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI yaitu nomor :   187/D/O/1987 tanggal 17 Juli 1987.
Sekolah Tinggi Sains dan Teknologi Indonesia (ST-INTEN) Bandung merupakan lembaga pendidikan tinggi yang berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Pelita, kemudian sejak tahun 2000 pembinaannya bernaung pada  Yayasan Pendidikan Institut Teknologi dan Informatika (ITI) Bandung sebagai Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Sekolah Tinggi Sains dan Teknologi Indonesia (ST-INTEN) Bandung.
Sekolah Tinggi Sains dan Teknologi Indonesia (ST-INTEN) Bandung pada saat sekarang mempunyai 4 (empat) jurusan :
Jurusan Teknik Informatika jenjang S1, Terakreditasi BAN-PT dengan nilai “C”
Jurusan Teknik Arsitektur jenjang S1, Terakreditasi BAN-PT dengan nilai “B”
Jurusan Teknik Elektro jenjang S1, Terakreditasi BAN-PT dengan nilai “B”
Jurusan Teknik Sipil  jenjang S1, Terakreditasi BAN-PT dengan nilai “C”
Keberadaan Sekolah Tinggi Sains dan Teknologi Indonesia (ST-INTEN) Bandung yang membina jurusan teknik adalah karena kebutuhan sumber daya manusia (SDM) khususnya di Indonesia pada bidang  keahlian teknik yang memiliki kualifikasi dan kompetensi sangat banyak dibutuhkan oleh dunia kerja. Sementara di masa era globalisasi dengan terbuka kesempatan perusahaan asing untuk berinvestasi di Indoensia akan menjadi tantangan bagi tenaga kerja Indonesia khususnya  di bidang Teknologi.
Profil ST-INTEN
VISI DAN MISI ST-INTEN
VISI :
MENJADI  PERGURUAN  TINGGI  YANG  MENGHASILKAN  TENAGA  PROFESIONAL DAN MANDIRI  DI BIDANG TEKNOLOGI BERLANDASKAN  NILAI-NILAI  MORAL  BANGSA
MISI :
1.     Membentuk Kualitas Manusia Yang Mampu Mengikuti  Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Yang Profesional.
2.     Membina Manusia Yang Seimbang Antara Penguasaan IPTEK dengan Aspek Mental dan Moral.
3.     Membina Manusia  Yang Mempunyai Kepedulian Mendarmabaktikan Ilmunya Yang Bermuara Pada Kemandirian Nusa dan Bangsa





BANDUNG BERISIK


BANDUNG BERGOYANG


Asal Usul Nama Kota Bandung
Tahukah Anda asal usul nama kota bandung? Menurut catatan sejarah kata “Bandung” berasal dari kata bendung atau bendungan karena terbendungnya sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Perahu yang kemudian membentuk telaga. Namun, menurut mitos masyarakat setempat nama “Bandung” diambil dari sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut perahu bandung yang digunakan oleh Bupati Bandung. Kota Bandung merupakan kota metropolitan terbesar di Jawa Barat dan sekaligus menjadi ibu kota provinsi tersebut. Selain itu, kota bandung juga merupakan kota terbesar ketiga di indonesia setelah Jakarta dan Surabaya. Nama lain dari kota Bandung adalah Kota Kembang, dan dahulu juga bandung dikenal dengan Parijs Van Java.
Selain itu kota Bandung juga dikenal sebagai kota belanja, dengan mall dan factory outlet yang banyak tersebar di kota ini. Dan pada tahun 2007, British Council menjadikan kota Bandung sebagai pilot project kota terkreatif se-Asia Timur. Saat ini kota Bandung merupakan salah satu kota tujuan utama pariwisata dan pendidikan. Berikut ini duniabaca.com kutip dari Wikipedia mengenai asal-usul sejarah kota bandung.

Sejarah Asal Usul Kota Bandung
Kata “Bandung” berasal dari kata bendung atau bendungan karena terbendungnya sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Perahu yang lalu membentuk telaga. Legenda yang diceritakan oleh orang-orang tua di Bandung mengatakan bahwa nama “Bandung” diambil dari sebuah kendaraan air yang terdiri dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut perahu bandung yang digunakan oleh Bupati Bandung, R.A. Wiranatakusumah II, untuk melayari Ci Tarum dalam mencari tempat kedudukan kabupaten yang baru untuk menggantikan ibukota yang lama di Dayeuhkolot.
Kota Bandung mulai dijadikan sebagai kawasan pemukiman sejak pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, melalui Gubernur Jenderalnya waktu itu Herman Willem Daendels, mengeluarkan surat keputusan tanggal 25 September 1810 tentang pembangunan sarana dan prasarana untuk kawasan ini. Dikemudian hari peristiwa ini diabadikan sebagai hari jadi kota Bandung.
Kota Bandung secara resmi mendapat status gemeente (kota) dari Gubernur Jenderal J.B. van Heutsz pada tanggal 1 April 1906 dengan luas wilayah waktu itu sekitar 900 ha, dan bertambah menjadi 8.000 ha di tahun 1949, sampai terakhir bertambah menjadi luas wilayah saat ini.
Pada masa perang kemerdekaan, pada 24 Maret 1946, sebagian kota ini di bakar oleh para pejuang kemerdekaan sebagai bagian dalam strategi perang waktu itu. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Bandung Lautan Api dan diabadikan dalam lagu Halo-Halo Bandung. Selain itu kota ini kemudian ditinggalkan oleh sebagian penduduknya yang mengungsi ke daerah lain.
Pada tanggal 18 April 1955 di Gedung Merdeka yang dahulu bernama “Concordia” (Jl. Asia Afrika, sekarang), berseberangan dengan Hotel Savoy Homann, diadakan untuk pertama kalinya Konferensi Asia-Afrika yang kemudian kembali KTT Asia-Afrika 2005 diadakan di kota ini pada 19 April-24 April 2005.

Kependudukan Kota Bandung
Kota Bandung merupakan kota terpadat di Jawa Barat, di mana penduduknya didominasi oleh etnis Sunda, sedangkan etnis Jawa merupakan penduduk minoritas terbesar di kota ini dibandingkan etnis lainnya.

Pertambahan penduduk kota Bandung awalnya berkaitan erat dengan ada sarana transportasi Kereta api yang dibangun sekitar tahun 1880 yang menghubungkan kota ini dengan Jakarta (sebelumnya bernama Batavia). Pada tahun 1941 tercatat sebanyak 226.877 jiwa jumlah penduduk kota ini kemudian setelah peristiwa yang dikenal dengan Long March Siliwangi, penduduk kota ini kembali bertambah dimana pada tahun 1950 tercatat jumlah penduduknya sebanyak 644.475 jiwa.

Pemerintahan Kota Bandung
Dalam administrasi pemerintah daerah, kota Bandung dipimpin oleh walikota. Sejak 2008, penduduk kota ini langsung memilih walikota beserta wakilnya dalam pilkada, sedangkan sebelumnya dipilih oleh anggota DPRD kotanya.

Perwakilan Pemerintahan Kota Bandung
Sesuai konstitusi yang berlaku DPRD kota Bandung merupakan representasi dari perwakilan rakyat, pada Pemilu Legislatif 2004 sebelumnya anggota DPRD kota Bandung berjumlah 45 orang. Sesuai dengan perkembangan dan pertambahan penduduk maka pada Pemilu Legislatif 2009 anggota DPRD kota Bandung bertambah menjadi 50 orang, yang kemudian tersusun atas perwakilan delapan partai, dan terdiri atas 41 lelaki dan 9 perempuan.

wisata kuliner Kota Bandung 

Kota Bandung memang terkenal dengan kota wisata yang di dalamnya banyak terdapat objek wisata yang pastinya menarik para pengunjung baik dari Indonesia maupun mancanegara. Beberapa objek wisata di Bandung menyajikan pesona keindahan alam yang luar biasa seperti wisata alam Gunung Tangkuban Perahu yang berada di Lembang, Wisata Dago Pakar, Trans Studio Bandung, dan masih banyak lagi. Dan juga setiap tempat wisata di Bandung menyajikan wisata kuliner yang khas dan pastinya menambah daya tarik tersendiri bagi para wisatawan untuk mencobanya.
Banyak sekali tempat-tempat wisata kuliner di Kota Bandung, akan tetapi kami hanya bisa merekomendasikan beberapa tempat wisata kuliner saja yang wajib anda kunjungi saat anda sedang berlibur ke Bandung. Bagi anda pecinta wisata kuliner yang sedang berlibur di Kota Bandung, berikut adalah daftar tempat wisata kuliner di Bandung yang wajib anda kunjungi.
1. Lembang
Daerah Lembang memang menjadi pusat perhatian para wisatawan untuk mampir berlibur menikmati keindahan pemandangan alam. Selain keindahan alamnya, Lembang juga terkenal dengan udaranya yang sangat sejuk. Salah satu objek wisata yang terkenal adalah Gunung Tangkuban Perahu. Di Lemabang sendiri juga menjadi pusat wisata kuliner Bandung yang menyajikan banyak makanan, baik makanan khas Bandung maupun makanan dari luar Bandung.

2. Neo Calista Cafe
Neo Calista Cafe merupakan tempat yang asyik dipakai untuk nongkrong. Lokasinya berada di Bukit Pakar Timur Dago IV Kav B1, Bandung. Lokasinya yang berada di bukit Dago yang tinggi ini menjadikan cafe ini cocok untuk menghabiskan waktu untuk bersantai bersama keluarg atau teman. Apalagi jika anda berkunjung di malam hari, gemerlap lampu kota Bandung menjadikan keindahan tersendiri Kota Bandung.
Neo Calista Cafe juga menyajikan makanan istimewa seperti Pasta dan Omelette. Untuk minuman anda bisa memilih sesuai selera, seperti minuman Frapporeo atau Mochacino, minuman kopi yang sangat nikmat yang akan menemani malam anda, dijamin menambah suasana bersantai anda semakin indah.

3. Dimsum Bandung
Dimsum Bandung ini merupakan tempat wisata kuliner dengan gaya Cina. Sangat cocok bagi anda yang saat ini sedang mencari makanan khas Cina yang ada di Bandung. Atau anda yang belum pernah merasakan makanan khas Cina bisa langsung berkunjung ke Dimsum Bandung. Selain Dimsum Bandung, Paris Van Java juga ada sebuah restoran khas Cina.

4. Kedai Nyonya Rumah
Kedai Nyonya Rumah adalah sebuah rumah makan yang terletak di dua tempat yaitu di Jalan Trunojoyo No. 29 dan Jalan Naripan No. 92, Dago, Bandung. Rumah makan ini menyajikan makanan dengan cita rasa yang luar biasa. Makanan yang terkenal di Kedai Nyonya Rumah seperti Nasi pepes bakar, nasi tutug oncom, nasi goreng, soto Bandung dan masih banyak lagi. Untuk minumannya bisa anda pilih sendiri, mau fruit pie, rolled cake atau yang lain. Di samping itu keindahan interior yang unik dan udara yang sejuk Kedai Nyonya Rumah menjadikan kedai ini wajib anda kunjungi.

5. Kampung Gajah
Kampung Gajah menyajikan banyak objek wisata dan permainan. Keindahan alam yang menakjubkan karena terletak di perbukitan dan juga sejuknya udara di tempat ini menjadikan membikin daya tarik wisatawan. Di Kampung Gajah anda bisa mengunjungi beberapa tempat wisata menarik seperti Waterboom, formula cart, tempat bermain anak, bahkan ada kebun strawbery.
Wisata kuliner di Kampung Gajah menjadi sajian utama tempat wisata ini. Semua jenis makanan bisa anda temukan di sini, mulai dari bakso, sate, nasi sambal, teriyaki, udon, bento, unagi, dan masih banyak lagi makanan yang berasal dari Eropa. Selain itu di Kampung Gajah anda juga bisa mengunjungi restoran khas Jepang 

6. Cisangkuy
Cisangkuy merupakan sebuah cafe yang terkenal dengan minuman Yoghurt nya, berada di Jl. Cisangkuy 66, Bandung. Sangat cocok sebagai tempat nongkrong anak muda selain Neo Calista Cafe. Selain cafe Cisangkuy juga menyajikan pemandangan taman yang indah, ditambah anda juga bisa menyewa kuda untuk berkeliling taman bersama keluarga atau teman.


BANDUNG JUGA PUNYA PERSIB PEMIRSA

Sebelum bernama Persib Bandung, di Kota Bandung berdiri Bandoeng Inlandsche Voetbal Bond (BIVB) pada sekitar tahun 1923. BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada masa itu. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Mr. Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakni R. Atot.
Atot pulalah yang tercatat sebagai Komisaris Daerah Jawa Barat yang pertama. BIVB memanfaatkan lapangan Tegallega di depantribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan di luar kota seperti Yogyakarta dan Jatinegara, Jakarta.
Pada tanggal 19 April 1930, BIVB bersama dengan VIJ Jakarta, SIVB (sekarang Persebaya), MIVB (PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), dan PSM (PSIM Yogyakarta) turut membidani kelahiran PSSI dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta. BIVB dalam pertemuan tersebut diwakili oleh Mr. Syamsuddin. Setahun kemudian kompetisi tahunan antar kota/perserikatan diselenggarakan. BIVB berhasil masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1933 meski kalah dari VIJ Jakarta.
BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain yang juga diwarnai nasionalisme Indonesia yakni Persatuan Sepak bola Indonesia Bandung (PSIB) dan National Voetball Bond (NVB). Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib yang kemudian memilih Anwar St. Pamoentjak sebagai Ketua Umum. Klub-klub yang bergabung ke dalam Persib adalah SIAP, Soenda, Singgalang, Diana, Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi.
Persib kembali masuk final kompetisi perserikatan pada tahun 1934, dan kembali kalah dari VIJ Jakarta. Dua tahun kemudian Persib kembali masuk final dan menderita kekalahan dari Persis Solo. Baru pada tahun 1937, Persib berhasil menjadi juara kompetisi setelah di final membalas kekalahan atas Persis.
Di Bandung pada masa itu juga sudah berdiri perkumpulan sepak bola yang dimotori oleh orang-orang Belanda yakni Voetbal Bond Bandung & Omstreken (VBBO). Perkumpulan ini kerap memandang rendah Persib. Seolah-olah Persib merupakan perkumpulan "kelas dua". VBBO sering mengejek Persib. Maklumlah pertandingan-pertandingan yang dilangsungkan oleh Persib ketika itu sering dilakukan di pinggiran Bandung, seperti Tegallega dan Ciroyom. Masyarakat pun ketika itu lebih suka menyaksikan pertandingan yang digelar VBBO. Lokasi pertandingan memang di dalam Kota Bandung dan tentu dianggap lebih bergengsi, yaitu dua lapangan di pusat kota, UNI dan SIDOLIG.
Persib memenangkan "perang dingin" dan menjadi perkumpulan sepak bola satu-satunya bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya. Klub-klub yang tadinya bernaung di bawah VBBO seperti UNI dan SIDOLIG pun bergabung dengan Persib. Bahkan VBBO (sempat berganti menjadi PSBS sebagai suatu strategi) kemudian menyerahkan pula lapangan yang biasa mereka pergunakan untuk bertanding yakni Lapangan UNI, Lapangan SIDOLIG (kini Stadion Persib), dan Lapangan SPARTA (kini Stadion Siliwangi). Situasi ini tentu saja mengukuhkan eksistensi Persib di Bandung.
Ketika Indonesia jatuh ke tangan Jepang, kegiatan persepak bolaan yang dinaungi organisasi dihentikan dan organisasinya dibredel. Hal ini tidak hanya terjadi di Bandung melainkan juga di seluruh tanah air. Dengan sendirinya Persib mengalami masa vakum. Apalagi Pemerintah Kolonial Jepang pun mendirikan perkumpulan baru yang menaungi kegiatan olahraga ketika itu yakni Rengo Tai Iku Kai.
Tapi sebagai organisasi bernapaskan perjuangan, Persib tidak takluk begitu saja pada keinginan Jepang. Memang nama Persib secara resmi berganti dengan nama yang berbahasa Jepang tadi. Tapi semangat juang, tujuan dan misi Persib sebagai sarana perjuangan tidak berubah sedikitpun.
Pada masa Revolusi Fisik, setelah Indonesia merdeka, Persib kembali menunjukkan eksistensinya. Situasi dan kondisi saat itu memaksa Persib untuk tidak hanya eksis di Bandung. Melainkan tersebar di berbagai kota, sehingga ada Persib di Tasikmalaya, Persib di Sumedang, dan Persib di Yogyakarta. Pada masa itu prajurit-prajurit Siliwangi hijrah ke ibukota perjuangan Yogyakarta.
Baru tahun 1948 Persib kembali berdiri di Bandung, kota kelahiran yang kemudian membesarkannya. Rongrongan Belanda kembali datang, VBBO diupayakan hidup lagi oleh Belanda (NICA) meski dengan nama yang berbahasa Indonesia Persib sebagai bagian dari kekuatan perjuangan nasional tentu saja dengan sekuat tenaga berusaha menggagalkan upaya tersebut. Pada masa pendudukan NICA tersebut, Persib didirikan kembali atas usaha antara lain, dokter Musa, Munadi, H. Alexa, Rd. Sugeng dengan Ketua Munadi.
Perjuangan Persib rupanya berhasil, sehingga di Bandung hanya ada satu perkumpulan sepak bola yakni Persib yang dilandasi semangat nasionalisme. Untuk kepentingan pengelolaan organisasi, dekade 1950-an ini pun mencatat kejadian penting. Pada periode 1953-1957 itulah Persib mengakhiri masa pindah-pindah sekretariat. Wali Kota Bandung saat itu R. Enoch, membangun Sekretariat Persib di Cilentah. Sebelum akhirnya atas upaya R. Soendoro, Persib berhasil memiliki sekretariat Persib yang sampai sekarang berada di Jalan Gurame.
Pada masa itu, reputasi Persib sebagai salah satu jawara kompetisi perserikatan mulai dibangun. Selama kompetisi perserikatan, Persib tercatat pernah menjadi juara sebanyak empat kali yaitu pada tahun 1961, 1986, 1990, dan pada kompetisi terakhir pada tahun 1994. Selain itu Persib berhasil menjadi tim peringkat kedua pada tahun 1950, 1959, 1966,1983, dan 1985.
Keperkasaan tim Persib yang dikomandoi Robby Darwis pada kompetisi perserikatan terakhir terus berlanjut dengan keberhasilan mereka merengkuh juara Liga Indonesia pertama pada tahun 1995. Persib yang saat itu tidak diperkuat pemain asing berhasil menembus dominasi tim tim eks galatama yang merajai babak penyisihan dan menempatkan tujuh tim di babak delapan besar. Persib akhirnya tampil menjadi juara setelah mengalahkan Petrokimia Putra melalui gol yang diciptakan oleh Sutiono Lamso pada menit ke-76.
Sayangnya setelah juara, prestasi Persib cenderung menurun. Puncaknya terjadi saat mereka hampir saja terdegradasi ke Divisi I pada tahun 2003. Beruntung, melalui drama babak playoff, tim berkostum biru-biru ini berhasil bertahan di Divisi Utama.
Sebagai tim yang dikenal baik, Persib juga dikenal sebagai klub yang sering menjadi penyumbang pemain ke tim nasional baik yunior maupun senior. Sederet nama sepertiRisnandar Soendoro, Nandar Iskandar, Adeng Hudaya, Heri Kiswanto, Ajat Sudrajat, Yusuf Bachtiar, Dadang Kurnia, Robby Darwis, Budiman, Nur'alim, Yaris Riyadi hingga generasi Erik Setiawan dan Eka Ramdani merupakan sebagian pemain timnas hasil binaan Persib.Sampai saat ini Persib Bandung adalah tim Indonesia yang bisa di bilang paling dibanggakan oleh Indonesia karena prestasi dan kemampuannya.